Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Oktober 2017

Inilah Wanita Yang Memandikan Jenazah Putri Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

UMMU Athiyyah Al-Anshariyah. Bak taburan mutiara, riwayat-riwayat hadits menghiasi kehidupannya. Barangkali, seseorang yang membuka halaman demi halaman kitab-kitab hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menemukan nama seorang wanita yang mulia, Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah.

Namanya Nusaibah bintu Al-Harits. Dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu ‘Athiyyah. Dia salah seorang wanita Anshar yang masuk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang bersama kaum muslimin menghadapi kaum musyrikin, Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha turut pula terjun dalam medan pertempuran. Tujuh peperangan dia ikuti bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya Perang Khaibar. Dalam peperangan, dia membuat makanan bagi pasukan, mengobati yang terluka, dan merawat yang sakit.

Dia pula yang memandikan jenazah Zainab, putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu ‘Athiyyah menceritakan kejadian waktu itu, “Salah seorang putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. Beliau pun menyuruh kami untuk memandikannya.

“Mandikanlah dia dengan basuhan ganjil, tiga, lima, atau lebih dari itu kalau kalian pandang perlu. Mandikan jenazahnya dengan air dicampur daun bidara, dan basuhan yang terakhir dicampur dengan sedikit kapur barus. Kalau sudah selesai, beritahu aku,” kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika kami selesai memandikan, kami memberitahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memberikan sarungnya pada kami. “Pakaikanlah sarung ini padanya,” kata beliau. Setelah itu, kami menjalin rambut Zainab menjadi tiga jalinan, di sisi kanan dan kiri serta di ubun-ubunnya. Lalu kami letakkan jalinan rambut itu di belakang punggungnya.”

Kisah ini memberikan pelajaran besar bagi kaum muslimin tentang tata cara memandikan jenazah. Banyak sahabat dan ulama tabi’in yang mengambil faedah dari kisah ini.

Ummu ‘Athiyyah pula yang meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau memerintahkan agar para wanita yang sedang haid turut keluar pada hari raya menuju lapangan tempat ditunaikannya shalat ‘Id bersama seluruh kaum muslimin. Juga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para wanita sering mengikuti jenazah. Namanya pun tercantum dalam kitab-kitab hadits.

Tak hanya ini ilmu yang diambil oleh Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha. Bahkan selain mengambil ilmu langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu ‘Athiyyah meriwayatkan pula dari ‘Umar ibnul Khaththab. Ilmunya pun diwarisi oleh orang-orang setelahnya, di antaranya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Muhammad bin Sirin, Hafshah bintu Sirin, dan masih banyak lagi.

Kehidupan Ummu ‘Athiyyah bertabur ilmu dari cahaya nubuwwah. Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Referensi :
– Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar (8/437-438)
– Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/422-423)
– Siyar A’lamin Nubala`, Al-Imam Adz-Dzahabi (2/318)
– Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/315-316).
– Dinukil dari http://www.asysyariah.com, penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran.

Kamis, 27 Juli 2017

Inilah Kisah Kesaksian Seorang Mukmin yang Menemui Dajjal

Pendengar, dari Abu Sa’I Al-Khudri r.a. berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Pada waktu keluarnya Dajjal ada seorang dari kaum mukmin yang (dengan beraninya) pergi menemui Dajjal lalu ia disambut oleh pengawal Dajjal dan ditanyakan, ‘Hendak kemana engkau?’ Ia menjawab, ‘Saya ingin menemui orang yang baru saja keluar (Dajjal).’ Lalu mereka bertanya, ‘Apakah kamu belum percaya kepada Tuhan kami?’ Orang mukmin itu menjawab, ‘Tuhan kami tidak samar.’

Maka berkatalah pengawal Dajjal, ‘Bunuhlah dia.’ Tapi sebagian pengawal mereka mengatakan, ‘Jangan, Tuhan kami melarang membunuh seseorang melainkan dengan perintahnya.’ Maka dibawalah mukmin tersebut menghadap pada Dajjal.

Maka ketika orang mukmin itu melihat Dajjal ia berkata, ‘Hai sekalian manusia, inilah Dajjal yang telah disebut oleh Rasulullah SAW.’ Maka segera Dajjal menyuruh merebahkan mukmin tersebut dan diperintahkan dikupas kulit dan dipukuli punggung dan perutnya. Lalu Dajjal bertanya, ‘Apakah engkau tetap tidak percaya kepada kami?’
   
Mukmin itu menjawab, ‘Engkaulah Al-Masih pendusta.’ Maka Dajjal memerintahkan mukmin itu digergaji badannya dari kepalanya hingga ke kakinya menjadi dua bagian lalu Dajjal berjalan di tengah kedua badannya. Lalu Dajjal memerintahkan,”Bangunlah!” Maka bangunlah orang mukmin itu (seperti sediakala).

Lalu Dajjal kembali bertanya, ‘Apakah kamu belum percaya kepadaku?’ Mukmin itu menjawab, ‘Tidak berkurang keyakinanku bahwa engkaulah Dajjal bahkan bertambah yakin.” Kemudian orang mukmin itu berkata, ‘Hai sekalian manusia ia (Dajjal) tidak dapat berbuat demkian lagi kepada seorangpun.’

Maka Dajjal berusaha membunuh lagi orang mukmin tersebut namun Allah telah meletakkan di antara leher hingga belakang orang itu seolah-olah tembaga sehingga tidak dapat disembelihnya. Mereka menyangka ia dilempar ke dalam neraka padahal dilempar ke surga. Kemudian Nabi SAW bersabda : “Itulah manusia yang paling besar kesaksiannya (syahid) di sisi Rabbul ‘Alamin,” (HR. Muslim). []

Sumber: Akhir Zaman/Islampos

Senin, 24 Juli 2017

Semua Do'a Tukang Roti ini Terkabulkan, Namun Hanya Satu Do'a Yang Belum Terkabul...

Pendengar, ada sebuah kisah cukup unik yang menggambarkan dahsyatnya kekuatan dzikir, yaitu kisah antara Imam Ahmad bin Hanbal dengan pembuat roti.

Di akhir-akhir hayat sang Imam, pernah terlintas ingin mendatangi salah satu kota di Irak. Kemudian beliau berangkat ke kota itu.

Sesampainya disana bertepatan dengan waktu maghrib, lantas beliau shalat maghrib berjama’ah disebuah masjid. Sambil menunggu Isya, Imam yang dijuluki sebagai Amirul mukminil fil hadist itu membaca Quran dan dilanjutkan dengan shalat Isya.

Selepas Isya, beliau ingin berbaring untuk sekedar istirahat. Namun tiba-tiba datang marbot/pengurus masjid yang melarangnya. Imam Ahmad menyampaikan bahwa dirinya datang dari jauh dan akan beristirahat semalam saja. Namun marbot tidak mau tahu. Masjid tidak boleh digunakan untuk tidur.

Sang Imam pun keluar dengan didorong-dorong. Nampaknya marbot begitu kuat memegang jabatan sebagai pengurus masjid. Sampai tidak ada toleransi sedikitpun meski menginap semalam saja.

Marbot tidak tahu kalau yang diusir adalah salah satu ulama besar. Imam peletak batu pertama mahdzab Hanbali. Banyak ulama besar yang berguru kepada beliau di bidang hadist. Termasuk Imam Mahdzab Syafi’i, Muhammad bin Idris As-Syafi’i.

Namun dahulu belum ada foto-foto seperti saat ini. Jadi wajar saja, tidak semua masyarakat mengenal muka dari ulama besar abad itu.

Setelah pintu masjid dikunci, Imam Ahmad hendak istirahat diterasnya. Namun marbot juga melarang ia istirahat di tempat tersebut.

Beliau kembali didorong hingga ke jalanan. Kalau saja marbot tahu yang didorong berkali-kali adalah Ulama besar, jangankan didorong, sekedar menyentuhnya saja rasanya sangat tidak sopan.

Tak begitu jauh dari masjid, terdapat kios roti. Pemilik dari kios melihat adegan orang didorong-dorong dari teras hingga keluar halaman. Pemilik roti merasa kasihan ada seorang tua yang diperlakukan kurang tepat oleh marbot. Ia lantas memanggil sang Imam.

“Wahai syaikh (tuan), kemarilah.”

Tak lama Imam Ahmad memenuhi panggilan tersebut. Pemilik kios mengatakan bahwa ia punya dua rumah. Imam Ahmad dipersilakan untuk menggunakan salah satunya hingga esok.

Saat bertemu pertama kali, Imam Ahmad mendapati sesuatu yang unik dari pemilik kios roti itu. Setiap ia akan mengambil bahan-bahan roti dan dilanjutkan dengan membuat adonannya, seperti telur, terigu, dan bahan-bahan yang lain, mulutnya tidak pernah berhenti mengucapkan dzikir.

“Astaghfirullah wa atubu ilaik.”

Kalimat itu terus terucap kecuali saat berbicara kepada Imam Ahmad.

Begitu takjubnya beliau dengan dzikir yang diucapkan tanpa putus, Imam Ahmad lalu bertanya, “Sudah berapa lama engkau melazimi dzikir tersebut?”

“Ketika muda saya sudah mengamalkan dzikir ini,” jawab sang pembuat roti. Pada saat itu umur dari pembuat roti hampir sama dengan Umur Imam Ahmad.

“Apa manfaat dari istighfar yang sudah kamu lazimi dengan sedemikian lama?” tanya Imam Ahmad lagi.

“Tidak ada yang saya minta oleh Allah kecuali pasti dikabulkan. Dan apa yang saya mohon pasti diberi. Tapi tinggal satu lagi yang belum Allah kabul.”

“Apa itu?” Tanya Imam Ahmad penasaran.

“Saya minta dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal,” jawab Pembuat roti hingga Imam Ahmad bertakbir,

Ia kemudian berkata,”Istigfarmu lah yang membuat saya datang ke kota ini tanpa ada alasan. Istighfarmu lah yang membuat marbot masjid mendorong-dorong keluar dari masjid. Istighfarmu lah yang mendatangkan saya ketempatmu ini, karena saya adalah Ahmad bin Hanbal.”

Biasanya alim ulama didatangi oleh para penuntut ilmu, ini justru atas takdir-Nya, ulama mendatangi orang biasa yang melazimi istighfar dan dzikir tanpa putus.

Dengan bertemunya Imam Ahmad dengan pembuat roti, berarti semua permintaan dari penglazim dzikir itu terkabul. Alangkah bahagianya bila posisi itu ada pada kita. Semua yang kita minta akan mudah terwujud.

Demikianlah potongan sekelumit dari banyaknya kisah atas balasan orang yang melazimi dzikir. Selain Allah memberi ketenangan, Allah juga mengabulkan segala permintaan didunia, sebelum nanti ada pahala yang besar di akherat kelak.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu ingat kepada-Nya dengan berdzikir setiap hari, baik dipagi dan petang hari.

Wallahu a’lam bisyowab. []

https://www.islampos.com/satu-lagi-yang-belum-terkabul-39577/

Senin, 29 Mei 2017

Siapakah Kuda Bersayap Dari Riqa'

SAID bin Abu Maryam menceritakan kepada kami hadits dari Yahya bin Ayyub, dari Ammarah bin Ghaziyyah berkata,

“Sesungguhnya Muhammad bin Ibrahim menyampaikan hadits yang diterima dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Aisyah, bahwa ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Tabuk atau Khaibar, saat itu mainan bonekanya ditutupi dengan sehelai kain. Kemudian, angin menghembus sehingga ujung kain itu terbuka. Lalu, dia menutupinya dari penglihatan anak-anak perempuan yang ada di sekitarnya.”

Rasulullah SAW. bertanya, “Wahai Aisyah apa ini?”

Aisyah menjawab, “Salah satu di antara anak-anak perempuan ku melihat seekor kuda yang memiliki dua sayap dari Riqa.”

Rasulullah bertanya kembali, “Apa bagian tengahnya?”

Aisyah menjawab, “Tengahnya adalah kuda.”

Beliau bertanya lagi, “Apa yang menempel pada kuda itu?”

Aisyah menjawab,”Dua sayap.”

Belia bertanya dengan keheranan, “Kuda yang memiliki dua sayap?”

Aisyah berkata, “Bukankah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki dua sayap?” []

Sumber: 11 dari 101 Kisah Tawa dan Senyum Nabi Muhammad SAW/Karya: Abu Islam Ahmad/Penerbit: Al-Qalam

Inilah Do'a Yang Dibaca Oleh Khalifah Umar bin Khattab Tatkala Lelah Mengurus Rakyatnya

SEMASA hidupnya, Umar adalah sosok yang amat tegas. Bahkan, para umahat langsung terdiam saat Umar datang, padahal sebelumnya mereka asyik menyampaikan sesuatu kepada Rasulullah. Diamnya para umahat adalah sebentuk rasa hormat, sebab mengetahui karakter Umar.

Dalam sabda Rasulullah yang lain juga disebutkan bahwa setan lebih memilih lari dan mencari jalan lain saat berpapasan dengan Umar di jalan yang sama. Itulah di antara alasan mengapa Umar mendapat julukan al-Faruq dan disebut sebagai salah satu pintu fitnah. Kelak setelah Umar wafat, fitnah yang dialami kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Dalam memimpin, Umar adalah teladan tiada banding. Hingga kini, keteladanan Umar senantiasa dibincang harum dalam banyak literatur dan forum diskusi. Beliau adalah pemimpin yang tegas, peduli, bijaksana, tak pilih kasih, dan adil. Sebagai seorang pemimpin, beliau tak segan atau malu untuk memikul gandum yang hendak diberikannya kepada rakyat miskin nan kelaparan.

Pada suatu siang, Umar kelelahan sebab mengurus rakyatnya seharian. Beliaupun beristirahat di atas tumpukan tanah dan kerikil berlinangan keringat. Dalam episode kelelahan ini, Umar memanjatkan doa yang amat menyentuh hati. Beliau meminta kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tak banyak dilakukan oleh pemimpin lain selepasnya.


“Ya Allah,” pinta Umar lirih, “usiaku sudah semakin udzur, tubuhku semakin tua,” dan, lanjutnya terbata, “rakyatku sudah semakin banyak.” Itulah kalimat yang dipilih oleh Umar dalam panjatkan doa. Sebuah pengakuan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang memiliki sifat lemah nan tak berdaya di hadapan Rabbnya.

Dalam jenak, bibirnya semakin terbata melanjutkan pinta, “Kembalikan aku kepada-Mu dalam kondisi tidak menyia-nyiakan mereka, dan dalam kondisi tidak termakan fitnah.” Duhai, dalam lemahnya fisik yang dirasakan, beliau masih sibuk meminta sesuatu untuk rakyatnya.

Lanjutnya semakin jelas, “Tetapkanlah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu, dan wafat di tanah Rasul-Mu.” Beliau yang gagah perkasa itu, dengan tunduk meminta kematian di jalan Allah Ta’ala. Kemudian sebagai wujud rindunya kepada Nabi, Umar juga memohon agar diwafatkan di tanah kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[]

Sumber: Kisahikmah.com

Jumat, 28 April 2017

Meskipun Diluar Logika, Abu Bakar Tetap Mengimani Apa Yang Dikabarkan Oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Pendengar, Isra' mi’raj adalah peristiwa yang kasat mata. Tak heran, banyak orang tak percaya akan kejadian ini. Banyak yang mempertanyakan, bahkan menganggap gila Rasulullah.

Abu Bakar ash-shiddiq merupakan sahabat yang pertama kali mengimani Isra Miraj. Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang-orang datang berbondong-bondong kepada Abu Bakar ash-shiddiq karena mendengar cerita perjalanan malam Nabi Muhammad.

“Lihat apa yang diucapkan temanmu (Muhammad),” ujar salah satu di antara mereka.

“Apa yang Beliau ucapkan?” tanya Abu Bakar.

Orang-orang bercerita, Rasululah  mengaku telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis. Ia diangkat ke langit hanya dalam satu malam. “Jika memang Beliau yang mengucapkan, maka sungguh itu berita benar, sesuai yang Beliau ucapkan. Karena Beliau adalah orang yang jujur,” kata Abu Bakar.

Abu Bakar tak banyak bertanya. Ia mengimani Rasulullah sebagai utusan Allah yang amanah dan jujur.

Di kemudian hari, peristiwa itu dikenal dengan Isra Mi’raj. Peristiwa sakral itu terdiri dari rangkaian Nabi Muhammad menaiki burak hingga langit ke tujuh. Ia juga mengalami perjalanan ke Masjid al-Aqsa.

Para ilmuwan modern menemukan bahwa kecepatan cahaya merupakan pergerakan tercepat yang pernah tercatat dalam sejarah ilmu sains. Berabad-abad sebelumnya, umat Islam telah mengenal burak, yang berarti kilatan cahaya, yang mengantarkan Nabi Muhammad menjalani Isra Mi’raj. []



Sumber: Khazanah Republika

Kabar dari Malaikat Untuk Ahli Ibadah 70 Tahun

Pendengar, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali pernah bercerita dalam salah satu kitabnya, Ayyuhâl Walad, tentang seorang Bani Israil yang begitu taat beribadah kepada Allah. Hamba tersebut menunjukkan kesalehan tersebut hingga tujuh puluh tahun lamanya.

Suatu kali Allah mengutus Malaikat untuk memberi kabar kepadanya bahwa seluruh ibadah yang ia tunaikan itu tidak lantas membuatnya pantas masuk surga.

Saat pesan tersebut disampaikan, sang hamba ahli ibadah berujar, “Kami diciptakan Allah untuk beribadah maka sudah semestinya kami pun beribadah.”

Jawaban si hamba di atas selaras dengan bunyi ayat yang tercantum dalam Surat ad-Dzariyat ayat 56: “Wa mâ khalaqtul jinna wal insa illâ liya‘budûn (Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku).”

Ahli ibadah itu tak menunjukkan tanda-tanda protes atas kabar dari malaikat, melainkan sekadar menjelaskan bahwa ibadah 70 tahun yang ia lakukan sejatinya hanyalah wujud dari pelaksanaan perintah Allah sendiri.

Malaikat pun kembali kepada Allah dan berkata, “Ya Ilâhi, Engkau lebih tahu apa yang ahli ibadah itu katakan.”

Allah menjawab, “Apabila dia tak berpaling dari ibadah kepadaku, maka dengan kemurahan-Ku Aku pun tak akan berpaling darinya. Saksikanlah wahai malaikatmmalaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuninya.”

***

Ibadah sebesar apa pun memang tak akan bisa melunasi seluruh anugerah Allah kepada manusia, termasuk balasan surga. Ritual ibadah, betapapun intensifnya, masih terlalu murah untuk ditukar dengan semesta karunia yang tak terhitung: mulai dari kesehatan fisik, harta benda, keamanan, kemerdekaan, hingga kesempatan dan kemampuan beribadah itu sendiri. Hanya lantaran rahmat Allah-lah manusia layak meraih kemuliaan surgawi.

Namun demikian, hubungan tak sebanding antara ibadah manusia dan karunia Allah itu tak berarti mempersilakan setiap orang berbuat semaunya, lepas dari tanggung jawab ibadah. Sebab, “Siapa tak beramal, ia tidak memetik ganjaran,” kata Imam Al-Ghazali. Hal ini menunjukkan, rahmat Allah kepada hambanya menghendaki adanya ikhtiar manusia yang sedari awal dibekali hati dan nalar.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah juga pernah bertutur, “Barang siapa mengira bahwa tanpa kerja keras ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang melamun. Barang siapa menyangka bahwa dengan jerih payah ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang berdoa menuju ‘kaya’.” []


Sumber : ISLAMPOS

Rabu, 12 April 2017

Kisah Setan Mengajarkan Ayat Kursi kepada Abu Hurairah

TAHUKAH kalian bahwa sahabat mulia Abu Hurairah pernah mendapat pengajaran ilmu dari setan? Dia pernah diajarkan ayat kursi dan diberitahukan manfaatnya oleh setan bahwa dengan membaca ayat kursi sebelum tidur, Allah akan memberikan penjagaan dan setan pun tidak mengganggu hingga pagi hari. Hal ini yang menunjukkan keutamaan ayat kursi.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah di atas secara lengkap sebagai berikut,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan,

“Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.”

Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?”

Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.”

Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya.

Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya.

Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.”

Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali.

Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut.

Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya.

Dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya.

Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’.

Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?”

“Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan,” (HR. Bukhari no. 2311).



Sumber: Rumaysho 

Senin, 10 April 2017

Karena Meningglkan Zina, Pemuda ini mendapatkan 2 Surga Sekaligus

PADA suatu malam seorang pemuda yang hidup di zaman Umar bin Khattab berjalan pulang (ke rumah) setelah shalat Isya. Tiba-tiba, tampak seorang wanita menghadang di hadapannya. Wanita itu menawarkan dirinya. Sang pemuda itu pun tergoda oleh si wanita.

Lalu, wanita itu pun berlalu, dan si pemuda mengikutinya, sampai akhirnya ia berada di depan pintu rumah wanita itu. Tiba-tiba ia merasakan getaran dalam hatinya (karena takut kepada Allah). Dan ia teringat firman Allah SWT, ‘Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya,’ (QS. Al-A’raf: 201).

Kemudian si pemuda itu jatuh pingsan. Si wanita memperhatikannya, ternyata pemuda itu tampak seperti orang yang sudah mati. Dia beserta seorang pembantu perempuannya berusaha menggotongnya (ke rumah pemuda itu) sampai ke depan pintu rumahnya.

Lalu, keluarlah ayah pemuda itu, dan ia melihat anaknya tergeletak di depan pintu dalam kondisi seperti itu. Lalu, ia mengangkat dan memasukannya (ke dalam rumah). Kemudian si pemuda siuman, lalu sang ayah bertanya, ‘Apa yang telah menimpamu, hai anakku?’ Pemuda itu tidak memberitahu ayahnya. Namun, ayahnya terus menerus bertanya, hingga akhirnya ia memberitahu ayahnya.

Saat ia kembali membacakan ayat (yang terlintas dalam ingatannya), tiba-tiba ia menarik napas panjang. Dan bersamaan dengan itu keluarlah ruhnya (meninggal).

Ketika Umar bin Khaththab RA mendengar cerita ini, ia berkata, ‘Mengapa kalian tidak memberitahuku tentang kematiannya?’ Lalu, Umar pergi menuju kuburannya, sambil berdiri ia berkata, ‘Hai Fulan ‘dan orang yang takut saat menghadap Rabbnya, akan mendapat dua surga,’ (QS. Ar-Rahman: 46).

Tiba-tiba Umar mendengar suara dari dalam kubur itu, ‘Allah telah memberikan itu kepadaku, hai Umar,’ (Raudhah al-Muhibbin, hal. 479-780).

Kisah ini juga diriwayatkan dengan versi lain, yaitu bahwa ada seorang pemuda pada masa Umar bin Khaththab RA yang selalu berada di masjid dan beribadah. Lalu, ada seorang wanita yang jatuh cinta kepadanya, dan si pemuda ini pun menginginkan wanita itu. Tetapi akhirnya ia ingat dan sadar.

Tiba-tiba ia merasa sesak nafas kemudian pingsan. Lalu datanglah pamannya, maka pamannya membawa ia ke rumahnya. Manakala ia siuman, ia berkata, ‘Hai paman, pergilah kepada Umar bin Khaththab, sampaikan salamku padanya, dan tanyakan kepadanya, apakah balasan untuk orang yang takut saat menghadap Tuhannya?’

Maka, disampaikanlah pesan tersebut kepada Umar. Lalu, Umar datang untuk menjenguknya, namun ia sudah meninggal. Lalu, Umar berkata, ‘Kau akan mendapatkan dua surga’,” (Raudhan al-Muhibbin, hal. 481-482). []

Sumber: Kisah-kisah Nyata/Karya: Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi/Penerbit: Darul Haq, Jakarta

Minggu, 09 April 2017

Karena Kematiannya, Ia Menjadi Orang Pertama Yang Membuat Allah Tersenyum dan Arsy Terguncang Karenanya

SUDAH seharusnya para ibu maupun calon ibu belajar menjadi shalihah dari para muslimah yang Allah cintai. Salah satunya ialah mengambil hikmah dari kisah wanita shalihah, Ummu Sa’ad atau ibu dari Sa’ad bin Muadz.

Pada saat detik-detik kepergian Sa’ad bin Muadz kepangkuan Allah, Rasulullah masuk menjenguk Sa’ad yang sedang sekarat. Beliau kemudian berkata, “Semoga Allah membrikan balasan baik padamu sebagai pemimpin suatu kaum. Kau telah menunaikan apa yang telah kau janjikan, dan Allah pasti menunaikan apa yang ia janjikan kepadamu,” (Al-Arnauth berkata, “Para perawinya tsiqah.” Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat (III/2/9)).

Arsy Ar-Rahman terguncang karena kametian Sa’ad bin Muadz.

Nabi bersabda, “Arsy Ar-Rahman terguncang karena kematian Sa’ad bin Muadz.” (Muttafaq’alaih; dari Jabir. Muslim dan Ahmad meriwayatkan hadits ini dari Anas).

Diriwayatkan dari Asma binti Yazid bin Sakan, ia berkata, “Saat Sa’ad bin Muadz meninggal dunia, ibunya berteriak lalu Nabi bersabda, “Apakah air matamu tidak berhenti mengalir dan kesedihanmu hilang jika anakmu menjadi orang pertama yang membuat Allah tersenyum dan Arsy terguncang karena kematiannya?” 
 (Diriwayatkan At-Thabrani. Para perawinya adalah perawi-perawi kitab shahih).[]

Sumber : ISLAMPOS

Jumat, 31 Maret 2017

Kisah Cinta Penuh Hikmah Rosulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dan Mualaf Yahudi Shafiyah Binti Huyay

Bilakah Muhammad melarang cinta?
Dan apakah beliau menghina umatnya yang jatuh cinta?
Janganlah kau berlagak mulia!
Dengan menyebut cinta sebagai dosa

---Ibnu Hazm, sang penyair Andalus

Pria yang sedang kita bicarakan ini bukan sembarang pria, melainkan pria paling pria di muka bumi untuk tolak ukur sepanjang masa. Seorang pria paling tampan dan gagah yang tiada bandingnya. Siapa lagi kalau bukan Sayyidul Mursalin Muhammad bin Abdullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW), khalilullah yang menawan itu. Beliau tidak hanya menawan sebagai seorang nabi dan rasul teragung melainkan juga sebagai seorang pria idaman. Beliau adalah penghulu pria teragung dan simbol kelaki-lakian. Wajar saja jikalau tiada laki-laki yang lebih laki-laki daripada beliau. Tidak sedikit para gadis dan wanita di zamannya yang amat tertarik untuk dinikahi oleh beliau, terpikat oleh daya pesonanya yang luar biasa. Bukan hanya parasnya yang nan elok tapi juga lantaran akhlak-adabnya yang mulia. Hebatnya, yang suka lagi jatuh cinta dengan Rasulullah (tentu yang saya maksud ini “suka” dan “cinta” dalam hal ketertarikan) bukan wanita-wanita biasa, melainkan wanita-wanita tercantik di zamannya bahkan mungkin tercantik untuk ukuran segala zaman.

Siapakah gerangan tandingan pria sekelas beliau ini? Tidak cukupkah bukti seorang Khadijah binti Khuwailid “kembang”nya Quraisy dan wanita idola di negeri Makkah; tidak cukupkah bukti seorang Shafiyyah binti Huyai bin Akhtab seorang “ratu” kaumnya, wanita tercantik di kalangan Bani Israil. Bahkan saat hari pertama Shafiyah datang ke Madinah sebagai istri Rasulullah, para gadis dan wanita kaum Anshar berbondong-bondong mengunjunginya lantaran mendengar kecantikannya sangat luar biasa; Tidak cukup juakah bukti seorang gadis cantik Aisyah Ash-Shiddiqah putri Ash-Shiddiq, seorang gadis cerdas, berwawasan luas dan berkepribadian mulia yang di kemudian hari ia menjadi madrasah intelektual serta guru dari banyak sahabat maupun tabi’in. Mereka hanya tiga di antara sekian banyak wanita yang mendapat kemuliaan sebagai istri seorang pria gentleman ini. 

Rasulullah merupakan pria paling pemberani, paling bijaksana, paling beradab dan paling menjaga kehormatannya. Tidak jua ketinggalan, pria yang dipilih Allah menjadi penutup para nabi dan rasul ini juga adalah pria paling perkasa. Yang kita sedang membahas betapa menawan dan maskulinnya pria paling pria yang satu ini, untuk kali ini kita akan membahas perihal hubungan beliau dengan Shafiyah binti Huyai.

Awal pertemuan sepasang kekasih ini terjadi di kala kemenangan kaum Muslimin di perang Khaibar melawan Yahudi, pada awal tahun tujuh hijriyah. Beliau menikahinya saat perjalanan pulang dari Khaibar. Tadinya, sebagai wanita-wanita dari kaum yang kalah di peperangan, Shafiyah hendak dipilih oleh Dihya bin Khalifah, seorang sahabat Rasulullah yang paling rupawan, tapi ada seorang sahabat Rasulullah yang lain mengatakan kepada beliau, “Wahai Nabiyullah, apakah tuan akan menyerahkan Shafiyah binti Huyai kepada Dihyah? sesungguhnya ia adalah sayyidah (wanita terhormat) bani Quraizhah dan Bani Nadhir, ia hanya pantas untuk tuan.” Lalu Rasulullah pun bersabda kepada Dihyah, “ambilah budak perempuan selain dirinya.” Dihyah pun menaati perintah beliau. Tentu saja pesona pembawa risalah Ilahi sekaligus pemimpin besar lebih membuat Shafiyah tertarik.

Disebutkan bahwa Rasulullah melemparkan selendang kain beliau kepada Shafiyah, semua kaum Muslimin yang melihat kejadian itu langsung paham bahwa beliau telah memilih Shafiyah untuk menjadi pendampingnya. Rasulullah menutupinya dengan jubah seraya berjalan beriringan bersamanya, serta-merta beliau mengajak Shafiyah masuk Islam “Jika kau memilih agamamu, kami tak akan memaksa, namun jika kau memilih Allah dan RasulNya, aku sendiri yang akan menikahimu.” Beliau menikahi Shafiyah dengan mahar kemerdekaan Shafiyah. Status Shafiyah berubah drastis, dari seorang Yahudi menjadi seorang Mukimin, dari seorang budak menjadi seorang Ummul Mukminin. Shafiyah merupakan mualaf dari Yahudi, kecantikannya amat luar biasa. Imam Ibnul Qayyim menuliskan dalam Zadul Ma’ad bahwa Shafiyah adalah “termasuk wanita yang sangat cantik di dunia.” Kini ia menjadi istri dari lelaki yang diperebutkan wanita-wanita Arab.

Shafiyah pun berjalan mengiringi Rasulullah SAW, menuju unta beliau. Sebagai seorang pria sejati (real man) ketika beliau hendak menaiki untanya, beliau mempersilahkan Shafiyah untuk naik unta terlebih dahulu. Beliau membantu bidadari barunya ini naik unta, dengan cara sangat romantis: sampai duduk berlutut agar Shafiyah bisa menapaki lutut beliau dan menggapai punggung untanya. Beliau sendiri sebagai pemimpin dan panglima yang biasa berperang, amat mudah menaiki kendaraan unta.

Pesta pernikahan tentu saja hanya dihadiri oleh kaum Muslimin yang mengikuti perang Khaibar, karena walimahan itu dilaksanakan di tengah-tengah perjalanan ke Madinah. Ia dirias oleh Ummu Sulaim atas perintah Rasulullah. Ruang rias putri bangsawan Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Nadhir itu amat sederhana, bukan tirai permata, melainkan dua helai kain wol yang diikatkan di pohon. Amat sederhana, namun dua helai kain wol itu jadi saksi pernikahan pemimpin terbesar umat manusia dari bangsa Arab dengan tuan putri keturunan Yahudi yang telah menjadi mualaf. Pernikahan ini agak memadamkan kobaran dendam sisa-sisa bangsa Yahudi di jazirah Arab.

Rasulullah melangsungkan walimah pernikahannya yang sederhana dengan menu makanan tepung jelai, keju, dan kurma, tetapi semua orang yang ada bersuka-cita. Tidak hanya penduduk bumi yang menyaksikan walimah itu melainkan jua penduduk langit, lantaran yang menikah adalah seorang makhluk paling mulia di bumi dan langit.

Menjelang malam pertama beliau dengan Shafiyah, beliau ingin mendapat ketegasan dari Shafiyah “Pilihlah olehmu, seandainya engkau memilih Islam, engkau akan kutetap jadikan istri. Akan tetapi, kalau engkau memilih menjadi Yahudi, aku akan tetap memerdekakanmu dan mengembalikanmu kepada kaummu.”

Shafiyah menjawab, “Duhai Rasulullah, aku benar-benar telah jatuh cinta kepada Islam. Aku juga mempercayai anda, bahkan sebelum anda memasukanku ke dalam hidup anda. Apa yang kukhawatirkan dengan Yahudi? Mengapa pula harus menghiraukan bahwa di dalapnya terdapat orang tua dan saudara-saudaraku? Anda telah memberikan kepadaku pilihan antara kekufuran dan Islam. Sesungguhnya Allah dan RasulNya lebih menyukai keislamanku daripada kebebasanku dan kepulanganku ke kaumku.”

Dengan jawaban itu Rasulullah amat senang, karena Shafiyah masuk Islam dengan keikhlasan. Bukan hanya karena ingin dipersunting dengan Rembulan di Madinah itu. Mengapa dipilih kata rembulan? Nanti kita akan mendapatkan jawabannya.

Kemenangan gemilang di perang Khaibar yang mengundang suka cita segenap kaum Muslimin menjadi kian lengkap dengan pernikahan Rasulullah. Bagi sepasang pengantin, malam itu adalah sebuah anugerahNya dalam bentuk asmara. Perayaan cinta di keheningan malam selalu istimewa bagi dua insan yang sedang dilanda asmara, tak terkecuali bagi khalilullah sayyidul mursalin Muhammad bin Abdullah SAW. Sorot mata beliau yang senantiasa memandang Ummul Mukmin Sayyidah Shafiyah. Tentu sorotan mata yang menentramkan antar suami istri menjadi amal pahala di sisi Allah.

Untuk waktu yang lama, ada saat-saat keduanya hanya berbaring dalam diam, saling memandang satu sama lain. Waktu menjelang peraduan yang pertama antara dirinya dengan pria paling menawan sejagat itu, sang suami memperhatikan ada luka memar di bagian wajah Shafiyah.

“Apakah ini wahai adinda?” Seraya keheranan dengan memar biru di bagian wajah sang istri.

Shafiyah pun berkisah, bahwa itu didapat waktu menjadi pengantin baru dengan mantan suaminya Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abi Al-Huqaiq. “Wahai kakanda Rasulullah, sebelum engkau mendatangi kami (di Khaibar), aku bermimpi melihat rembulan di langit seakan-akan jatuh ke pangkuanku. Tidak, demi Allah aku tidak menyebut-nyebut dirimu sedikitpun. Aku menceritakan mimpiku ini kepada mantan suamiku, lalu dia menempelengku,” seraya berkata: “Rupa-rupanya engkau menginginkan Muhammad sang raja Hijaz menjadi suamimu” begitu celoteh Kinanah seperti yang dikisahkan Bunda Shafiyah sendiri. Ternyata Shafiyah telah lama menginginkan sang rembulan Hijaz, Rasulullah Muhammad bin Abdullah.

Malam itu laksana bait-bait doa yang berkumandang tanpa kata, melainkan melalui rangkaian ibadah bernama pernikahan yang menempatkan perayaan hasrat dan cinta untuk menggapai keharibaan ridha Ilahi. Suatu rahmat dariNya untuk memenuhi naluri insani para hambaNya melalui aqad yang suci.

Menjelang fajar, Rasulullah keluar dari tenda tempat beliau semalam memadu kasih dengan Shafiyah. Ternyata di luar tenda sudah ada Abu Ayyub Al-Anshari, sahabat beliau yang sangat semangat dalam berjihad. Abu Ayyub tidak tidur semalaman karena berjaga-jaga di luar tenda Rasulullah. Ketika itu Rasulullah bertanya apa yang telah dilakukannya, ”Ada apa gerangan wahai Abu Ayyub?”

Abu Ayyub menjawab, “saya mengkhawatirkan keselamatan tuan dari wanita ini, sebab ayah, suami, saudara, paman dan kaumnya telah dibunuh, sedangkan dia baru saja masuk Islam, maka saya mengkhawatirkan keselamatan anda.”

Maka Rasulullah menjelaskan kepada Abu Ayyub sekaligus menghiburnya. Beliau berdoa khusus untuk Abu Ayyub, “wahai Allah Subhana wa ta’ala, jagalah dan lindungilah Abu Ayyub sebagaimana dia telah semalam suntuk menjagaku.”

Saat rombongan Rasulullah tiba di Madinah, Shafiyah dititipkan sementara untuk menginap di rumah keluarga Haritsah bin Ma’mar. Wanita kaum Anshar berbondong-bondong menjenguk Shafiyah dan saling memperkenalkan diri lantaran mendengar kecantikannya yang sangat luar biasa itu. Kabar figur kecantikan Shafiyah menyebar ke seantero Madinah, dan membuat ‘panas’ Ummul Mukminin bunda kita tercinta Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar, dua istri Rasulullah yang lain. Mereka bekerja sama, maka diutuslah pelayan Barirah untuk melihat lebih langsung keadaan Shafiyah. Kebetulan, di tempat Shafiyah ada pula Ummu Salamah, istri Rasulullah yang ikut rombongan perang Khaibar. Ummu Salamah masih berada di tempat Shafiyah yang ramai kedatangan tamu. Melihat Barirah, Ummu Salamah menemuinya. Ummu Salamah heran yang Barirah tanya adalah melulu perihal Shafiyah dan kecantikannya. Maka dengan insting wanitanya Ummu Salamah berkata, “wahai Barirah, siapa yang menyuruhmu? Aisyah ya?” Barirah tidak berani menjawab. Namun Ummu Salamah paham. “Demi hidupku, dia memang sangat cantik, dan sesungguhnya Rasulullah sangat mengasihi Shafiyah.”

Segeralah Barirah pulang mengabarkan perihal Shafiyah ke Aisyah dan Hafshah. Nampaknya cerita Barirah pun membuat ledakan cemburu di benak-benak Aisyah dan Hafshah. Lantas bagaimana Ummu Salamah? nampaknya lebih tegar, Ummu Salamah bahkan menyaksikan pesta pernikahan Rasulullah dan Shafiyah. Tapi Ummu Salamah adalah wanita as-sabiqun al-awwalun yang ketinggian jiwanya sudah begitu terlatih.

Wajar terjadi saling cemburu berbalas cemburu. yang mereka cemburui adalah sayyidul mursalin, lelaki paling lelaki di muka bumi.  Khalilullah yang menawan itu, di mana senyum dan tutur katanya saja bisa membuat jiwa-jiwa gersang bertekuk lutut untuk menerima kebenaran risalah.


Sumber : SUARA ISLAM

Kamis, 12 Januari 2017

Kisah Dahsyatnya Kekuatan Istighfar Sang Penjual Roti Yang Mampu Menggetarkan Langit

Pendengar.......
Kisah Imam Ahmad bin Hambal tentang fadillah istigfar yang dilansir dari Kitab Shifatus Shafwah karangan Ibnu Al-Jauzi.

Imam Ahmad bin Hambal (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Di masa akhir hidup beliau bercerita, “Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat.”

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashroh.

Beliau bercerita, “Pas tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.”

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, “Kenapa Syaikh, Anda mau apa di sini?”

Marbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat sholeh dan zuhud.

Kata Imam Ahmad, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”

Kata marbot, “tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.

Ketika sudah berbaring di teras masjid, marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad.

“Mau apa lagi, Syaikh?” kata marbot.

“Mau tidur, saya musafir,” kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata, “Di dalam masjid tak boleh, di teras masjid juga tak boleh.”

Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.”
Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Waktu imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “Mari syaikh, Anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

Kata Imam Ahmad “baik”.

Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir. Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau imam Ahmad mengajak berbicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar,

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu Imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

Orang itu menjawab, “Sudah lama sekali syaikh. Saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

Imam Ahmad bertanya, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”

Orang itu menjawab, “Tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung diterima.”

Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah berikan.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya, “Apa itu?”

Kata orang itu, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashroh dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu.”

Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad). 

Sumber
https://www.satumedia.co/kekuatan-istighfar-sang-penjual-roti-yang-getarkan-langit-4050

Minggu, 08 Januari 2017

Tangis Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam Untuk Seorang Pria Yang Mampu Menggoncangkan Arsy -Singgasana Allah Ta'ala-

Rasulullah SAW merupakan sosok manusia paling sempurna keimanannya kepada Allah SWT. Sama seperti manusia lainnya, ternyata kehidupan Rasulullah juga pernah diwarnai kebahagiaan, keceriaan juga kesedihan dan air mata. Namun tangisan tersebut tentu saja karena sebab yang jelas.

Namun ternyata, Rasulullah juga pernah menangis untuk seorang lelaki. Bahkan tangisan Beliau tersebut mampu menggoncangkan Arasy ‘Singgasana Allah SWT’.

Kisah ini bermula ketika Rasulullah SAW tengah melakukan Thawaf untuk mengelilingi Ka’bah. Ketika itu, beliau melihat ada seorang lelaki yang juga melaksanakan hal serupa sembari berdzikir. Zikir tersebut berbunyi “Ya Karim! Ya Karim.”

Demikianlah lelaki yang berada di depan Rasulullah itu mengucapkan zikirnya. Mendengar zikir tersebut, Rasulullah kemudian mengucapkann lafadz ‘Ya Karim! Ya Karim! dan terus mengikuti si pria yang ada di depannya tadi.

Merasa yang yang membuntutinya dari belakang, si pria tadi pun merasa terheran. Akhirnya ia menepi ke sudut Ka’bah dan melanjutkan zikirnya. Namun meskipun demikian, ternyata Rasulullah tidak berhenti menirukan lafadz yang diucapkan oleh pria tersebut.

Akhirnya di pria merasa bahwa dirinya tengah diperolok-olok orang yang tidak dikenalnya tersebut. Ketika menengok ke belakang, didapatinyalah sosok pria tampan dan rupawan yang belum pernah dijumpainya.
Kemudian dirinya berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau ini sengaja memperolok-olokku karena aku ini orang Arab Badui. Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku adukan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah SAW.”

Mendengar hal tersebut, membuat Rasulullah SAW tersenyum lantas bertanya, “Tidaklah engkau mengenaliku wahai orang Arab?” Si lelaki Arab menjawab, “Belum.”
Kemudian Rasulullah bertanya kembali, “Jadi bagaimana kau bisa beriman kepadanya?”
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” Ujar si Arab Badui tadi.
Setelah mendengar pernyataan tersebut, Rasulullah SAW berkata “Wahai orang Arab, Akulah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Mendengar ucapan tersebut, si orang Arab merasa terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan saksikan, hingga membuatnya bertanya sekali lagi.
“Tuan ini Muhammad?”
“Ya”
 
Setelah mendapat kepastian bahwa pria nan tampan yang berada di hadapannya itu adalah Nabi Muhammad, maka menunduklah si pria tadi sekaligus mencium kedua kaki Rasulullah. Seketika Rasulullah menarik dan membangunkan pria Arab tadi seraya berkata,

Nabi pun kemudian berkata, “Wahai orang Arab, janganlah engkau perlakukan aku seperti itu, perbuatan semacam itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketauhilah kalau aku diutus Allah bukan untuk menjadi seorang yang takabur dan minta dihormati melainkan untuk membawa berita gembira.”

Pada saat itu, Malaikat Jibril turun ke bumi dan menemui Rasululllah SAW seraya memberitahu berita, “Ya Muhammad ! Tuhan mengucapkan salam kepadamu dan berkata, ‘Katakanlah kepada orang Arab itu supaya dia tidak terpesona dengan belas kasihan Allah. Ketauhilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya baik yang kecil maupun yang besar.”  Setelah mengatakan hal tersebut, Jibril pun pergi lagi ke langit.
Orang arab itu kemudian berkata.
“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!”

Rasulullah SAW terkejut mendengar perkataan orang Arab tadi, dirinya merasa heran. Keheranan tersebut muncul karena sekilas si orang Arab tersebut seperti menantang Tuhan. Kemudian beliau pun memastikan.
“Apakah yang engkau akan perhitungkan dengan Tuhan?”
Orang Badwi itu kemudian berkata, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka akupun akan memperhitungkan betapa besarnya maghfirahNya. Jika dia memperhitungkan kemaksiatanku, maka aku akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunanNya. Dan jika Tuhan memperhitungkan kekikiranku, maka aku akan memperhitungkan pula betapa Dia sangat Dermawan.”

Mendengar ucapan tersebut membuat Rasulullah menangis. Beliau merasa sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh orang Badwi tadi. Tangisan itu semakin menjadi hingga air mata Rasulullah membahasi janggutnya. Setelah itu, turunlah Jibril ke bumi seraya berkata.
“Ya Muhammad, Tuhan as-salam menyampaikan salam kepadamu, dan berkata : Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Katakanlah kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahnnya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti. ”

Demikianlah kisah mengenai Arasy yang bergoncang karena tangisan Rasulullah SAW untuk seorang pria Arab yang tengah melakukan thawaf di Ka’bah. Sungguh mulia hati dan pemikiran si pria tadi hingga membuat Rasululah menangis haru. []
Sumber: infoyunik.com

Minggu, 01 Januari 2017

Inilah Gambaran Tempat Tinggal Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam Yang Seharusnya Kita Teladani

Bismillah
Pendengar mari kita belajar kesederhanaan dari Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..

Tak perlu malu karena miskin, rumah manusia paling mulia pun seperti ini.


Perabot Rumah dan Kesederhanaan Rasulullah

Di sebelah timur masjid Nabawi Madinah, tampak sebuah bangunan yang akan membuat kita takjub, terpesona karena kesederhanaannya . Itulah tempat tinggal Rasul Agung Muhammad SAW. Rumah itu sangat kecil dengan hamparan tikar usang dan nyaris tanpa perabot.

Zaid bin Tsabit bertutur, “Anas bin Malik pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras dan di patri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu dan susu.’” (HR Tirmidzi).

Benda lain yang dimiliki Rasulullah adalah baju besi yang biasa dipakai saat berperang. Tetapi tak lama setelah beliau wafat baju besi itu digadaikan kepada seorang Yahudi dengan beberapa karung gandum, seperti yang pernah diriwayatkan Aisyah.

Soal tempat tidur Rasulullah SAW, Ummul Mu’minin, Aisyah RA menggambarkan bahwa suaminya itu tidak tidur di tempat yang mewah. “Sesungguhnya hamparan tempat tidur Rasulullah SAW terdiri atas kulit binatang, sedang isinya adalah sabut korma.” (HR At-Tirmidzi)

Hafshah saat ditanya, “Apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas itulah Rasulullah SAW tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.”

Manakala waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat empat. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah SAW membalas, “Kembalikan kepada asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.” (HR At-Tirmidzi).

Cerita tentang tempat tidur Rasulullah SAW juga pernah menyembabkan Umar bin Khatab menangis. Padahal, Umar bin Khatab terkenal sebagai pemuda yang gagah perkasa sehingga disegani banyak orang baik dari kalangan lawan maupun kawan.

Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau setan pun segan dan takut dengan Umar. Kalau Umar sedang lewat di suatu jalan, setan pun menghindar dari jalan yang dilaluinya dan memilih lewat jalan yang lain.

Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu, fenomena Umar menangis menjadi peristiwa yang sangat mengherankan.

Mengapa "Singa Padang Pasir" ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah SAW. Umar mendapati Rasulullah sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras.
“Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab

Rasulullah yang mulia pun sampai bertanya kepada Umar, "Mengapa Engkau menangis, wahai Umar?"

“Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan Kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera".

Lalu Nabi SAW berkata, "Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya," ujar Rasul SAW

Baginda Nabi Muhammad SAW. hidup dengan sangat zuhud. Seperti dituturkan oleh Aisyah, betapa Rasulullah hanya mempunyai dua baju, tidur di atas daun pelepah kurma, perutnya selalu lapar, bahkan pernah diganjal dengan batu, dan sangat sedikit tidur.

Rasulullah juga mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya, menambal baju sendiri, dan memerah kambingnya sendiri. Seperti itulah pekerjaan keseharian Rasululah, selalu memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri, tanpa membebani keluarga atau orang lain. Jika beliau mau tentulah sangat mudah menggantikan pekerjaan itu kepada orang lain, karena beliau adalah kepala rumah tangga sekaligus kepala negeri Arab pada saat itu.

Hanya sesibuk apapun beliau ketika Bilal sudah mengumandangkan adzan, beliau bergegas ke masjid dan menjadi imam. Selama hidupnya belum pernah beliau meninggalkan jamaah di masjid kecuali hari dimana beliau dipanggil menghadap Allah SWT. karena sakit

Bandingkan dengan umat sekarang. Bajunya paling sedikit dua lemari. Dengan berbagai model. Jasnya bertumpuk-tumpuk. Sepatunya berderet-deret semuanya branded. Tidurnya diatas kasur yang import harganya puluhan juta. Bagaimana bisa melaksanakan shalat malam?

Umat sekarang jauh dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW. Perutnya buncit-buncit. segala jenis makanan dimasukkan ke dalam perutnya. Halal dan haram menjadi satu.

Rumah Rasulullah tampak begitu sederhan, etapi mengapa kita malah ingin memiliki rumah mewah dan harta yang berlimpah ruah untuk berfoya foya?

Sungguh indah nian perumpamaan Nabi SAW akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Semoga ini bisamenjadi cerminan buat kita semua. (Amrullah Rz/Red: Mahbib)
Copas Facebook

Senin, 12 Desember 2016

Siapakah "Elang" Quraisy Sang Penakluk Andalusia ? (bagian 2 habis)

Elang Quraisy Penakluk Andalusia

(Bagian II)

Sempat mendapat tawaran duniawi yang begitu nikmat, wanita yang sangat cantik datang padanya. Walau mata dan hati tak bisa mengelak namun prinsipnya kuat menolak, keteguhnannya bagaikan air es disiramkan api namun tak padam. Juga gempuran dari serdadu Abasiyah yang bertubi. Bahkan penghianatan orang Arab Selatan yang juga berhasil dipadamkan.

Ancaman berikutnya datang dari luar dunia Islam. Beberapa kali Raja Prancis Charlemange mencoba untuk menyerang Kordoba. Charlemange melihat peluang untuk memerangi musuhnya di Andalusia karena Harun Ar-Rasyid --khalifah Abbasiyah yang menjadi rivalnya--sedang sibuk memerangi Bizantium. Raja Perancis itu menyebrangi Pegunungan Pyereenes untuk menyerang Abdurrahman. Namun, dengan kesigapan dan ketrampilan Abdurrahman dalam memimpin, pasukan Prancis bisa dipukul balik. Kemudian Charlemange mendengar berita kekacauan yang melanda imperiumnya sehingga ia pun menarik pasukannya dari Andalusia.

Kemudian Abdurrahman membangun angkatan bersenjata yang teratur yang jumlahnya tidak kurang dari 40 ribu personel. Dia sadar bahwa Andalusia sangat mungkin diserang dari tiga arah di lautan. Oleh sebab itu, dia kemudian membangun armada perang laut yang tergolong sebagai armada yang pertama kali di Andalusia. Armada ini menjadi armada perang laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.

Abdurrahman pun tak hanya cakap memimpin pasukannya. Di bawah kekuasaannya, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan perkembangan peraaban yang sangat pesat. Suatu kemajuan yang belum pernah dicapai oleh Andalusia hingga saat ini. Kordoba bersaing dengan Konstantinopel dan Baghdad dari segi kemegahan, kemewahan, dan perkembangan sains dan seni. Kordoba kemudian dikenal Barat sebagai Pengantin Andalusia dan Permata Dunia.

Tiga tahun sebelum meninggal, Abdurrahman merenovasi dan memperluas bangunan Masjid Kodoba. Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar yang berjumlah 1293 tiang. bangunan ini laksana Ka'bah kaum muslimin di Dunia Islam bagian barat. Hingga kini masjid ini masih berdiri megah dan termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi oleh pariwisata setelah istana Al-Hamra', sebagai peninggalan sejarah yang menarik.

Masa pemerintahannya dikenal oleh para ahli sejarah dengan masa pembangunan besar-besaran. Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperoleh air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Kordoba dan istana. Ad-Dakhil juga membuat taman yang dinamakan Ar-Rusafah di luar kawasan Kordoba, menjadikan Kordoba sebgai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa, sekaligus tandingan dari Baghdad yang berada di wilayah Timur.

Kontribusi yang dberikan olehnya dalam bidan penulisan ilmu menarik orang-orang untuk belajar ke istananya. Selain itu, Ad-Dakhil juga mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Kordoba, Universitas Toledo, Universitas Sevilla, juga membangun masjid Kordoba yang megah (yang pada tahun 1236 dijadikan gereja yang kini dikenal dengan nama La Mezquita).

Selain itu Abdurrahman juga dikenal sebagai seorang penyair dan orator ulung. Meskipun sejarah menyebutkan bahwa dia adalah pemuda terusir, tetapi dengan ketegaran dan kemauan kerasnya, ia berhasil mendirikan Daulah Umawiyah II yang mampu bertahan hingga tahun 1301 M. Setelah memerintah selama 32 tahun, Abdurrahman Ad-Dakhil meninggal pada 172 H dalam usia 61 tahun. Abdurrahman layak disebut Elang Quraisys; dari seorang pelarian politik menjadi penguasa Andalusia.

TAMAT...

Referensi:
Sejarah Para Khalifah, Hepi Andi Bastoni, Pustaka Al-Kautsar. Ensiklpoedi Islam, Abdul Fatah,dkk., Departemen Agama RI

Minggu, 11 Desember 2016

Ayah, Bunda Kenalkan Idola Utama Umat Islam Kepada Putra-Putri Anda!

Rosulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

  • Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalibs bin Hashim.
  • Tanggal  lahir : Subuh Hari Senin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; karena peristiwa tentara bergajahAbrahah yang menyerang kota Ka'bah)
  • Tempat lahir : Di rumah Abu Thalib, Makkah Al-Mukarramah.
  • Nama bapak : Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim.
  • Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf.
  • Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapak Rasulullah
  • Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
  • Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Sa'diah (lebih dikenali Halimah As-Sa'diah, suaminya bernama Abu Kabsyah).

 Usia 5 Tahun

  • Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

 Usia 6 Tahun


  • Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa '(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapak Rasulullah SAW) dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muththalib.

 Usia 8 Tahun

  • Kakeknya, Abdul Muththalib pula meninggal dunia.
  • Baginda dipelihara pula oleh bapak saudaranya, Abu Thalib.

Usia 9 Tahun (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).

  • Bersama bapak saudaranya, Abu Thalib bermusafir ke Syam atas urusan perniagaan.
  • Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira (Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa itu.

 Usia 20 Tahun


  • Terlibat dalam peperangan Fijar. Ibnu Hisyam di dalam kitab 'Sirah', jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari danberperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.
  • Menyaksikan ' perjanjian Al-Fudhul ' ; perjanjian damai untuk memberi pertolongan kepada orang yang didzalimi di Makkah.

Usia 25 Tahun

  • Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah.
  • Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.
  • Baginda SAW bersama-sama Abu Thalib dan beberapa orang bapak saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapak saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.
  • Mas kawin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

 Usia 35 Tahun

  • Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Ka'bah.
  • Pembinaan semula Ka'bah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan pendudukMakkah.
  • Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan 'Hajarul-Aswad' ke tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan batu tersebut.

 Usia 40 Tahun

  • Menerima wahyu di gua Hira' sebagai pelantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

Usia 53 Tahun

  • Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.
  • Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal / 24 September 622M.

Usia 63 Tahun

  • Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah / 8 Juni 632 Masehi.

Istri-istri Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

  1. Khadijah Binti Khuwailid.
  2. Saudah Binti Zam'ah.
  3. Aisyah Binti Abu Bakar (anak Sayyidina Abu Bakar).
  4. Hafsah binti 'Umar (anak Sayyidina 'Umar bin Al-Khattab).
  5. Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
  6. Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
  7. Zainab Binti Jahsy.
  8. Maimunah Binti Harith.
  9. Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
  10. Zainab Binti Khuzaimah (digelar 'Ummu Al-Masakin', Ibu Orang Miskin).

Anak-Anak Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam


  1. Qasim
  2. Abdullah
  3. Ibrahim
  4. Zainab
  5. Ruqaiyah
  6. Ummi Kalthum
  7. Fatimah Al-Zahra'

Anak Tiri Rosulullah

Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah at-Tamimi (anak kepada Sayyidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

Saudara Sesusuan Dengan Rosulullah

Ibu Susuan/Saudara Susuan

  • Thuwaibah → Hamzah
  • Abu Salamah → Abdullah bin Abdul Asad

Saudara Susuan

  • Halimah Al-Saidiyyah → Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Muthallib
  • Abdullah bin Harith bin Abdul ' Uzza
  • Syaima ' binti Harith bin Abdul ' Uzza
  • Aisyah binti Harith bin abdul ' Uzza

Bapak Dan Ibu Saudara Rosulullah ( Anak-anak Abdul Muthalib)


  • Al-Harith
  • Muqawwam
  • Zubair
  • Hamzah *
  • Al-Abbas *
  • Abu Talib
  • Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
  • Abdul Ka'bah
  • Hijl
  • Dhirar
  • Umaimah
  • Al-Bidha (Ummu Hakim)
  • Atiqah ##
  • Arwa ##
  • Umaimah
  • Barrah
  • Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *

* masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah SAW:
"Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku
Dan sesiapa yang mencintai aku niscaya dia bersama-samaku di dalam syurga"
(Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Nabi Muhammad SAW - Manusia agung
 

 Kenalilah Rosululah

Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bertemu muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

  • Aku belum pernah melihat lelaki yang segagah Rasulullah
  • Aku melihat cahaya dari lidahnya.
  • Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari terbit.
  • Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
  • Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
  • Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.
  • Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
  • Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
  • Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
  • Wajahnya seperti bulan purnama.
  • Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
  • Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
  • Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
  • Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
  • Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
  • Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
  • Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
  • Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
  • Janggutnya penuh dan tebal menawan.
  • Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.
  • Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
  • Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
  • Rambutnya sedikit ikal.
  • Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah bahu tapi disisir rapi.
  • Rambutnya terbelah di tengah.
  • Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjurdari dada ke pusat.
  • Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa. 
  • Seimbang antara kedua bahunya.
  • Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besardan tersusun dgn cantik.
  • Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.
  • Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.
  • Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.
  • Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
  • Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan putih.
  • Warna putihnya lebih banyak.
  • Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.
  • Warna kulitnya putih tapi sehat.
  • Kulitnya putih lagi bercahaya.
  • Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kokoh.
  • Badannya tidak gemuk.
  • Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi gagah.
  • Perutnya tidak buncit.
  • Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

 KESIMPULANNYA :

Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh
sepanjang zaman.

Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.

Siapakah "Elang" Quraisy Sang Penakluk Andalusia ? (Bagian 1)

Pada tahun 750M Bani Abasiyah melakukan pembunuhan terhadap keluarga Bani Umayah. Namun, seorang pemuda yang bernama Abdurrahman bin Muawiyah bin Hasyim bin Abdul Malik berhasil melarikan diri. Kisah bagaimana Abdurrahman Ad-Dakhil meninggikan Islam di Benua Eropa tergolong luar biasa. Kala itu, Abdurrahman yang baru berusia 19 tahun harus kabur dari istana saat keluarganya dari Dinasti Umayah dihancurkan oleh Dinasti Abasiyah.

Ia sempat lari dari Iraq, mengarungi Suriah, menuju Palestina, dan berkali-kali terkepung oleh tentara Abasiyah. Kemudian ia menyebrangi Gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wialayah Afrika. Setelah mengembara selama lima tahun, perjalanannya berakhir di Andalusia (Spanyol), negeri yang telah ditaklukan oleh nenek moyangnya dari Bani Umayah.

Saat dalam perjalanan, Abdurrahman diikuti oleh 400 budak yang setia pada Bani Umayah. Ada yang mengatakan, ketika dia mendarat pada tahun 755 M, pasukan Syam menghadiahkan seorang budak perempuan yang sangat cantik. Ketika melihat dan memperhatikannya, dia berkata, "Sesungguhnya hati dan mata ini telah sepakat. Jika aku meninggalkan perempuan ini, berarti aku telah menzaliminya. Namun jika aku sibuk dengan perempuan ini, maka aku menzalimi kepentinganku. Karena itu, aku tidak memerlukannya." Kemudian dia mengembalikan perempuan itu kepada mereka.

Abdurrahman dikenal sebagai seorang yang cerdas dan berani. Ia memilih menaklukan Spanyol daripada harus merebut kembali kekuasaan khalifah dari tangan Abasiyah. Dengan pasukan yang dihimpunnya selama perjalanan, ia kemudian memilih menyerang Kordoba. Dia mampu menguasai Spanyol setelah mengalahkan Yusuf AlFihri, gubernur Andalusia (nama Spanyol waktu dulu) saat itu. Dia berhasil menaklukkan kota itu dan kemudian menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan.

Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur yang mendirikan Daulah Abasiyah pun terus mengancam posisi Abdurrahman. Beberapa kali Khalifah Al-Mansur mengirimkan bala tentaranya yang terdiri dari para budak yang setia kepada Daulah Abasiyah untuk mengembalikan Andalusia ke tangan mereka.

Ancaman terhadap Abdurrahman bukan hanya dari Abasiyah. Sejumlah orang dari bangsa Yamaniyun (Arab Selatan) tidak menghendaki Abdurrahman menjadi pemimpin mereka. Bersama sejumlah orang barbar mereka melakukan pemberontakan. Lagi-lagi, Abdurrahman mampu memadamkan berbagai pergolakan tersebut.

Ancaman selanjutnya: Dari Dunia Barat

Bersambung...

Referensi:
Sejarah Para Khalifah, Hepi Andi Bastoni, Pustaka Al-Kautsar. Ensiklpoedi Islam, Abdul Fatah,dkk., Departemen Agama RI.